Empat Pesan Anies Baswedan diawal Tahun Ajaran

di jepang

Oleh. Ahmad Rifa’i

Trainer Diniyyah  Training Centre Diniyyah Puteri Padang Panjang

 

                Tidak ada yang berubah dengan Anies Baswedan, baik sebelum menjadi menteri, maupun saat menjadi orang nomor satu di Kementrian Pendidikan dan kebudayaan Republik ini. Ia rajin turun ke bawah. Meminjam istilah Jokowi, blusukan ke sekolah-sekolah. Momentum tahun ajaran baru ini tidak dilewatkannya dengan tiga pesan penting.

Pertama,   saat sidak ke SMKN Tangerang, rabu( 29/7/15), Sang menteri meminta semua siswa baru melepaskan atribut aneh yang dikenakan mereka. Menteri pun mengingatkan kepala sekolah dengan Peraturan menteri no. 55 tahun 2014 tentang surat edaran menteri kepada sekolah-sekolah untuk melarang semua kegiatan atau atribut yang merendahkan dan memalukan siswa yang mengarah kepada perpeloncoan.

Dengan terang-terangan, Anies meminta semua pihak yang tahu adanya tindakan perploncoan ini jangan diam dan mendiamkan saja, harus berani melawan untuk merubah sistem kebiasaan yang ada. “ Mereka ini tujuannya untuk belajar bukan untuk dipermalukan apalagi direndahkan derajatnya," tandas Anies.

Bahkan di depan siswa SMKN Tangerang ia mengingatkan siswa baru, jika mereka dipermalukan atau direndahkan mereka harus berani melawan senior yang jumlanya sedikit.              “ Kalian harus berani menolak tindakan perpeloncoan," tegas Anies.

Dia juga siap memberikan rekomendasi untuk pemberhentian kepala sekolah yang tidak mensosialisasikan aturan-aturan yang melarang saat Masa Orientasi Sosialisasi Peserta Didik Baru (MOPBD). Menyoal maraknya akis perpeloncoan dilaksanakan, Anies menyimpulkan karena ketidaktahuan panitia atas terbitnya permen itu, bahkan kepala sekolah tidak turut pula memberi tahu.

Kedua, sang menteri pun tidak lupa mendatangi beberapa Sekolah Dasar. Beberapa foto dokumentasi terlihat mantan Rektor Paramadina ini tengah melakukan salam komando dengan siswa SD.   Pendiri Yayasan Indonesia Mengajar ini juga mengaku kasihan melihat tas anak-anak seusia ini kian berat dan ia menyarankan untuk sekolah jangan memberi beban materi yang berat kepada anak-anak diawal sekolah, karena itu bakal mempengaruhi struktur pertumbuhan tulang punggungnya. Faktanya saat mahasiswa nanti, punggungnya akan bermasalah.

Ketiga, menyoal Kurikulum 2013 yang dinilainya belum siap, dan terkesan membebani anak dengan berbagai tugas pelajaran. Menurutnya, kurikulum ini sedang diperbaiki, karena itu jangan coba-coba dengan kebijakan yang belum siap, seperti kurikulum 2013 yang lalu, muncul masalah faktor karena salah satu faktornya adalah kesehatan.

Ini sangat beralasan, menurut penelitian, Dr Daniel Nugroho, AMF, fisioterapis dari Klinik Eastwest Physiotherapy & Rehabilitation, jika anak terlalu sering memikul beban yang terlalu berat akan berbahaya bagi struktur tubuhnya nanti. Anak sekolah dasar merupakan usia saat tubuhnya masih berkembang dan tumbuh. Jika terjadi sesuatu yang bisa mengganggu proses pertumbuhannya akibatnya baru akan terasa setelah si anak dewasa atau mulai memasuki usia 17 tahun ke atas.

Keempat, memberi motivasi siswa sekolah dasar tidak perlu diajarkan harus menjadi apa kedepannya, tetapi jauh melangkah, ingin berbuat apa untuk bangsa dan negara kedepannya. Menjadi apa dengan berbuat apa, dua hal yang berbeda. Jika ingin menjadi apa, adalah berkaitan dengan cita-cita, tetapi ingin berbuat apa, adalah sebuah bentuk kerja nyata. Ini sangat menarik.

Hemat penulis, banyak orang sudah mencapai cita-citanya, sumbangsih untuk negara tidak ada. Tetapi, ingin berbuat yang terbaik kepada bangsa ini tidak perlu menunggu gelar, jabatan dan atribut prosesi lainnya. Yang kita lihat, koruptor justeru datang dari kalangan akademis, perwira, hakim,pengacara, anggota dewan dan para kepala daerah yang tersangkut korupsi. Mereka bukan memberikan sumbangsih untuk negara, melainkan memeras, atau mencuri kas negara.

Anies bukanlah tipe menteri yang gemar melakukan rapat atau briefing dari ruang pertemuan satu ke pertemuan berikutnya. Ia gemar turun tangan sebagaimana kebiasaan lama yang ia bangun untuk bisa bersentuhan dengan masyarakat sewaktu mengomandoi Yayasan Pendidikan yang dibentuknya, yang bertujuan sebagai sebuah ikhtiar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

         Menyimak rekam jejak Gerakan Indonesia Mengajar sesungguhnya diinspirasi proses panjang yang dibangun selama bertahun-tahun. Proses ini adalah gabungan dari: Pelajaran dari berbagai generasi, Perjalanan aktivitas pengabdian maupun interaksi dengan berbagai masyarakat, Pengetahuan modern yang dipetik dari dunia akademik global.

Meminjam slogan lembaga ini, “karenanya berhenti mengeluh tidaklah cukup. Berkata-kata indah penuh semangat juga tidak pernah cukup. Lakukan sesuatu sekarang. Bergabung dalam kerumunan positif dan terlibat membangun masyarakat sipil yang kuat.” Inilah yang sedang dibangunkan Anies, untuk Indonesia dengan sumber daya manusianya yang kedepannya memiliki kompetensi global beserta pemahaman akar rumput, Indonesia akan sanggup berpijak dan mengabdi bagi kepentingan nasionalnya di tingkat dunia, demi memenuhi semua janji kemerdekaan bagi rakyatnya.