Pendidikan Karakter Tanpa “Parenting”, Runtuh !

 DSC 0420a

Oleh. Dra. Eva Delva, M.M.Pd

(Praktisi dan Trainer Parenting)

 

Pendidikan karakter sebagaimana yang dicanangkan oleh Presiden SBY menjadi program nasional pendidikan kita belakangan.

 

Sebab mengapa pentingnya Pendidikan Karakter difokuskan? Jawabannya   mengingat potret yang telah menjadi pemandangan umum adalah kurangnya sikap rasa menghargai anak kepada orang tuanya, atau siswa kepada gurunya sebagaimana yang juga kita saksikan secara bersama-sama belakangan ini.

 

            Pemandangan yang sama yang juga kita saksikan, bangsa ini juga rapuh dalam integritas kepribadian. Mudah menipu, gemar mencuri, pemarah dan brutal. Kita telah kehilangan marwah sebagai bangsa yang sopan, berbudi dan penuh kasih sayang terhadap sesama. Yang kita ketahui, semua perilaku teladan itu sudah tidak diajarkan disekolah manapun sampai sekarang.

 

Sebaliknya, orang tua, guru dan siswa lebih mengejar nilai (angka ) atau target penyampaian materi pelajaran ketimbang memperhatikan proses pembelajaran etika dan kejujuran di rumah dan di sekolah yang tidak dipandangnya pula sebagai bagian dari proses pembentukan karakter Si Anak.

 

            Hal yang memiriskan adalah disaat berlangsungnya Ujian Nasional, maka, oknum siswa, guru hingga Kepala Sekolah begitu teganya mendidik siswanya untuk berlaku curang selama proses ujian berlangsung. Bahkan, tindakan itu sengaja diorganisir dengan berbagai cara yang tidak dbenarkan agama.Jadi, pendidikan kita bukan membentuk insan bertanggungjawab dan jujur, tetapi mencetak bangsa yang sudi menipu diri sendiri dan orang lain.

 

            Diakui bahwa Pendidikan Karakter telah hampir lima tahun diwacanakan dan diterapkan diberbagai jenjang sekolah di negeri ini, sebagai mainstream tujuan pendidikan kita saat ini.   Banyak pihak, mulai dari Kementrian Pendidikan Nasional hingga kepada Kepala Diknas Kabupaten/Kota, mulai sadar betapa pentingnya pendidikan karakter itu ditanamkan kepada anak didiknya secara lebih dini lagi.

 

Sayangnya, pendidikan dan pembentukan karakter siswa atau anak, tidak sepenuhnya dipahami oleh kebanyakan pejabat, kepala sekolah dan guru bersangkutan. Mereka hanya fokus mengedepankan sisi pengembangan minat dan hobi anak di sekolah. Memberikan kesempatan kepada mereka melatih syaraf motoriknya. Kemudian memberikan waktu bermain yang lebih luas lagi dengan harapan, karakter anak akan terbentuk dengan sendirinya. Ini sebuah asumsi yang keliru.

 

Apapun pembenahan kurikulum yang dilakukan di sekolah sebagai cara untuk memulai pembentukan karakter akan bernilai sia-sia jika pendidikan Parenting (keorangtuaan ) tidak pula diajarkan kepada para guru dan orang tua siswa itu sendiri.

 

Pendidikan Karakter Harus Sejalan dengan   Parenting

 

Kenapa harus Parenting didahulukan ? Mengingat, hubungan antara Parenting dengan Pembentukan Karakter sangat erat kaitannya. Keduanya ibarat dua sisi keping mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Jika satu ditiadakan, maka sisi yang lain tidak akan memiliki nilai (harga) sama sekali.

 

Sebagaimana kerap penulis sampaikan bahwa pada training Parenting, fokusnya adalah melatih dan melakukan penguatan kepada para guru dan orang tua siswa untuk membangun komunikasi empatif dan simpatif kepada anak didiknya dalam berbagai situasi yang dibarengi dengan sikap penuh keteladanan dari orang tua dan guru tersebut.

 

Anak akan merasa dihargai jika cara komunikasi orang tua atau guru baik kepada mereka. Sebaliknya, anak akan berlaku diluar kendali, ketika cara guru dan orang tua dalam hal berkomunikasi sangat buruk diterimanya.

 

Komunikasi yang baik dan bagus sebagai pokok dari materi Parenting, akan terjadi jika para guru dilatihkan secara continue dalam kesehariannya, termasuk juga untuk orang tua di rumah untuk membiasakan bertutur yang baik dan penuh empati.

 

Banyak pengalaman membuktikan, anak-anak pemurung, sedih, kecewa dan bahkan suka ngembek, bisa ditaklukan dengan seni komunikatif empatif dari orang tua dan guru. Sebaliknya ketika guru dan orang tua tidak mendapatkan teknik yang tepat, jangan harap mereka akan mampu menggali problem yang dihadapi sianak. Justru sianak akan bersikap cuek sehingga solusi untuk mengatasi masalah sianak tidak tercapai.

 

Banyak masalah yang terjadi antara anak dengan orang tua atau guru dengan siswa sesungguhnya bermula dari komunikasi yang buruk tadi tanpa mereka sadari. Kadang anggapan mereka cara yang biasa dilakukan selama ini adalah lumrah, padahal cara itu telah menjadi racun dalam perkembangan kepirbadian sianak didik.

 

Untuk mendeteksi kesalahan dan kekeliruan cara komunikasi yang jelek, itu pada Training Parenting, dikenalkan kepada peserta 12 gaya komunikasi (kesalahan) populer yang telah merusak jutaan jiwa anak bangsa.

 

Manfaat Training Parenting

 

Training Parenting, yang sudah memasuki gelombang ke-10 di Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, diakui sangat membantu para guru dan orang tua santri dari berbagai profesi yang berbeda, dalam menangani masalah yang dihadapi anaknya baik di sekolah maupun di rumah.

 

Bahkan banyak cara dan tindakan dari orang tua yang selama ini keliru ketika mereka melihat dari Perspektif Parenting. Akhirnya mereka pun menyadari bahwa,orang tua juga perlu dilatih untuk membangun komunikasi empatif untuk mencairkan suasana batin anaknya yang resah atau kalut karena dihadang masalah.

 

Pendidikan Karakter Tanpa   Parenting, Mustahil !

 

            Pendidikan karakter tanpa adanya latihan-latihan komunikasi dan keteladanan kepada guru dan orang tua, mustahil akan membentuk siswa yang berkarakter sopan dalam bertutur kata, jujur, dan bertanggungjawab.

 

           Pendidikan karakter itu sesungguhnya harus dimulai dengan pendidikan Parenting kepada guru dan Orang tua. Disini, guru dan orang tua dibenahi terlebih dahulu sebelum kita membenahi anak didik.

 

            Jika sekolah hanya sibuk dengan pembenahan siswanya tanpa membenahi gurunya terlebih dahulu, maka program pembentukan karakter di sekolah akan runtuh dengan sendirinya, lantaran peran guru di sekolah dan orang tua di rumah tidak dilatih untuk melakukan penguatan-penguatan latihan komunikasi perspektif Parenting. Dengan sendirinya, pendidikan karakter jalan ditempat.

 

Penulis adalah Ketua Jurusan PGRA Di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Diniyyah Puteri Rahmah El Yunusiyyah/ Trainer Diniyyah Training Centre