Khawatir Tidak Diterima

khawatir tidak diterima

Dalam hidup ini, kita tentu pernah menemukan orang-orang yang bangga dengan amal ibadahnya. Seolah ia akan langsung masuk surga dengan ibadahnya tersebut. Padahal bisa saja yang terjadi malah sebaliknya.

Sebagai orang yang mengaku beriman, kita hendaklah khawatir jika amal ibadah yang kita kerjakan tidak diterima oleh Allah SWT. Rasa takut dan khawatir amal tidak diterima itu dikarenakan oleh empat hal berikut.

$11.     Allah tidak membutuhkan ketaatan hamba

Sesungguhnya Allah Maha Kaya dari hamba-hamba-Nya. Dia tidak membutuhkan amal ibadah dan ketaatan para hamba-Nya.

Allah SWT berfirman, “Dan barang siapa yang bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji. (QS. Luqman: ayat 12).

Imam Qatadah dan para salafussaleh yang lain berkata, “Sesungguhnya Allah SWT tidak memerintahkan suatu perintah kepada para hamba karena Dia membutuhkan hal itu. Juga tidak melarang para hamba dari melakukan suatu perbuatan karena sikap bakhil dari-Nya. Akan tetapi, Allah SWT memerintahkan kepada hamba untuk melakukan suatu perbuatan adalah untuk kebaikan mereka sendiri, dan melarang dari melakukan suatu perbuatan juga untuk mencegah kehancuran mereka sendiri.

$12.    Diterimanya suatu amal adalah semata-mata karena kebaikan dan rahmat Allah SWT.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tidaklah salah seorang dari kalian selamat karena amalnya.” Para sahabat bertanya, “Tidak juga engkau, wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, “Tidak juga aku, kecuali Allah meliputiku dengan rahmat-Nya.” (HR. Bukhari)

Bila membaca hadis ini, pasti kita akan semakin yakin betapa besarnya kelemahan dan ketidakmampuan yang kita miliki. Karena itu kita akan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT,  dan merasa sangat membutuhkan-Nya. Sehingga kita tidak akan terjerat dalam sikap menyombongkan diri, atau merasa puas dengan amal dan usaha yang  kita lakukan selama ini. Semakin kita menyadari hakikat ini, maka akan semakin tampak kemuliaan Allah SWT di mata kita. Kita pun akan semakin mengetahui betapa kecilnya kita di hadapan-Nya.

Bagi Allah-lah segala keutamaan dan anugerah yang kita punyai. Kita tidak boleh menganggap bahwa semua itu merupakan hasil dari usaha dan jerih payah kita sendiri. Sebab hal ini akan menimbulkan kesombongan.

Betapapun tinggi pangkat dan jabatan yang kita punya, pintarnya otak kita, banyaknya harta yang kita miliki dan beragam anugerah lainnya, itu semua adalah milik Allah SWT semata. Kita hanya makhluk yang diberi-Nya titipan.

$13.    Seorang hamba tidak merasa dirinya aman dari fitnah dan cobaan.

Setinggi apa pun kedudukan yang kita punya saat ini, kita tidak boleh merasa aman dari fitnah dan cobaan. Kita harus khawatir kalau sampai tersapu oleh angin hawa nafsu dan fitnah.

Betapa banyak orang di sekeliling kita yang awalnya terhormat di tengah-tengah masyarakat. Namanya harum semerbak dan jadi kebanggaan orang banyak. Namun tiba-tiba saja namanya tercoreng karena ketahuan berbuat yang tidak baik.

Oleh karena itu, jika telah menyadari keempat hakikat ini, kita akan benar-benar tahu bahwa kekaguman terhadap ketaatan kita kepada Allah SWT merupakan sebuah penyakit. Itu semua tak ada manfaatnya. Hal itu juga merupakan bencana paling besar yang dapat menjatuhkan kita ke jurang kesesatan dan kehancuran.

Sungguh. Tak ada sedikit pun yang patut kita banggakan tentang segala amal ibadah yang kita lakukan. Baik itu bangga di depan manusia lain, terlebih lagi di depan Allah SWT.

Satu hal yang patut kita sadari adalah niat. Seorang ulama yang bernama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.”

Niat yang baik atau keikhlasan merupakan sebuah perkara yang sulit untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan sering berbolak-baliknya hati kita. Terkadang ia ikhlas, di lain waktu tidak. Padahal, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, ikhlas merupakan suatu hal yang harus ada dalam setiap amal kebaikan kita. Amal kebaikan yang tidak terdapat keikhlasan di dalamnya hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka.

Hal yang dapat mendorong kita agar lebih ikhlas adalah dengan menyembunyikan amal kebaikan yang kita lakukan. Yakni kita menyembunyikan amal-amal kebaikan yang disyariatkan dan lebih utama untuk disembunyikan (seperti shalat sunnah, puasa sunnah, dan lain-lain).

Semoga kita jadi pribadi yang senantiasa takut dan khawatir tidak diterima amal ibadahnya oleh Allah SWT. Amin.