Waktu, Pedang atau Uang?

Waktu merupakan hal sangat sulit dipahami. Kenapa? Coba bayangkan. Jika umur kita kini 12 tahun, pastilah tidak terasa perjalanan waktu tersebut hingga kini kita telah bisa berbicara, berjalan, makan, dan minum dengan benar.

Bagi anak-anak, waktu mereka biasanya hanya ada untuk bermain dengan teman-teman sebayanya atau menghabiskan waktu dengan bercengkrama bersama keluarga. Lain halnya dengan orang dewasa. Saat dewasa kita baru bisa mengetahui seberapa berharga waktu itu.

Bekerja bagi orang dewasa boleh dikatakan sebagai kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan hidup anak, istri, dan keluarganya. Namun sebagaimana positif, pastilah ada juga negatifnya. Bekerja memang dapat menghasilkan uang. Tapi waktu juga bisa menjadi pedang yang amat sangat tajam yang dapat mencabik-cabik kehidupan seseorang. Banyak orang tua menganggap bahwa dengan uang, anak mereka bisa menjadi anak yang baik dan berbudi pekerti. Bagi mereka. bekerjalah yang diprioritaskan agar dapat mencapai hal tersebut. Tapi, itu semua salah. Banyak anak-anak yang diberi istilah “broken home” karena orang tua yang disibukkan dengan pekerjaan.

Maka dari itu, yang dapat kita pelajari dari permasalahan diatas adalah masalah menghargai waktu. Lihat! Hanya karena orang tua yang tidak menyempatkan waktu untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya, sebagian penerus bangsa rusak olehnya. Nah, sekarang mau yang mana, waktu adalah uang atau waktu adalah pedang. (Aisha Asnan/MTs DMP Diniyyah Puteri)

Sampah dan Keindahan Alam Indonesia

Cobalah lihat disekeliling kita! Bukankah sebenarnya alam Indonesia ini indah? Tumbuhan subur di mana-mana, perpohonan rimbun tinggi meneduhi jalan. Taman hijau dan subur. Dan begitu banyak panorama alam yang sungguh indah tak terbilang.

Namun sayang, lihatlah, sampah bertebaran dimana-mana, merusak pemandangan indah yang seharusnya membuat sejuk mata. Sungguh sangat mengganggu. Kenapa kita harus menyia-nyiakan hal yang sangat berharga itu? Apakah kita sanggup membayar segala kerusakan yang telah kita buat.

Hampir setiap hari, bahkan setiap saat kita bertemu dengan sampah. Tapi, apakah tergerak hati kita untuk mempedulikannya? Mungkin tidak, bahkan hanya untuk sekedar memungutnya dan memasukkanya ke tempat sampah pun tidak. Namun yang lebih parah lagi, yah, siapa lagi kalau bukan sipemilik sampah? Apa susahnya berjalan sebentar ketempat sampah dan memasukan sampah itu kedalam tempatnya? Atau bahkan sekedar mengulurkan tangan untuk memasukan sampah ke tempat sampah.

Seharusnya kita bisa lebih peduli lagi soal ini. Karena, bukankah lingkungan ini milik kita juga? Bukankah kita bisa menyelamatkan bumi ini dari sampah hanya dengan bertanggung jawab dengan sampah sendiri? Karena itu, mulailah hal kecil itu dari sekarang, sebelum semuanya terlambat. (Fathya Izzatunnisa/MTs DMP Diniyyah Puteri)

Peraturan Bukanlah Musuh

Peraturan adalah sederet tata tertib yang digunakan untuk mengatur dan biasanya disertai konsekuensi bagi setiap pelanggarnya. Peraturan tidak hanya berlaku bagi manusia, tapi juga hewan, tumbuhan, dan bahkan benda mati pun sebenarnya juga diatur.

Namun, banyak orang mengeluh, karena peraturan dinilai terlalu berlebihan. Padahal jelas, hidup harus ada aturan. Seperti kata pepatah, “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.” Oleh karena itu, dimana pun kita berada, pasti ada aturan yang berlaku.

Pada dasarnya aturan dibuat atas banyaknya kesalahan dari para pelanggar, sehingga terjadi dinamika peraturan. Sebagai contoh, suatu sekolah menganggap hal lazim pada masalah mencontek. Namun, seiring berjalannya waktu, menyontek semakin banyak digemari. Sehingga menimbul beberapa masalah. Karena hal itu, sekolah tersebut menyatakan tindakan tegas bagi siapapun yang menyontek. Akhirnya, dibentuklah sebuah aturan baru, yaitu drop out sebagai konsekuensi menyontek. Sebenarnya aturan tersebut lebih baik daripada harus masuk neraka karena menyontek adalah suatu kebohongan.

Peraturan dibuat untuk dilanggar? Benarkah demikian? Jelas, tidak. Itu hanyalah kalimat miris yang sering kita dengar dari mulut orang-orang yang tak bertanggung jawab. Padahal semakin kita berambisi melawan peraturan, maka peraturan akan dibuat semakin ketat. Tak sedikit orang terkekang karena merasa sulit dan menjadikan aturan sebagai masalah.

Memang, ada aturan yang tidak pernah berubah yaitu, aturan yang berlandaskan Al-qur’an. Al-qur’an mengatur matahari terbit dari timur. Benar, hingga saat ini kita masih merasakan kehangatannya di pagi hari dan indahnya sunset di sore hari. Jika pun berubah, matahari menjadi terbit dari barat. Dalam Islam, hal tersebut merupakan tanda-tanda hari kiamat yaitu, hari hancurnya kehidupan dunia.

Jadi, peraturan memang harus kita taati, bukan untuk dilanggar. Peraturan juga akan menjadikan kita lebih tertib agar tidak terlalu bebas dalam bertindak. Bagi yang masih bermusuhan dengan aturan, mulai sekarang, marilah ubah gaya hidup dengan menaatinya! (Quratul Akyuni/MAS KMI Diniyyah Puteri)

Pentingnya Pohon Bagi Kehidupan

Tahukah betapa pentingnya pohon bagi kehidupan kita? Mungkin semua orang sudah mengetahuinya, namun, pemahaman masyarakat masih kurang mengenai pentingnya kelestarian alam. Masih banyak di luar sana yang menebang pohon, tanpa mengingat penerus berikutnya.

            Pepohanan yang rimbun dipangkas, bahkan, pohon yang masih muda pun ditumpas tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Padahal pentingnya pohon bagi dunia ini sangatlah banyak. Bukan saja sebagai tempat untuk berteduh, namun sebagai sarana penyerapan air jika terjadi banjir, dan penetralisir udara kotor yang dihasilkan dari bahan bakar yang tidak ramah lingkungan. Tanpa pepohonan, akan membuat kita susah untuk mendapatkan udara bersih, terutama yang tinggal di daerah perkotaan.

            Akibat pembukaan lahan baru menjadi lahan pertanian dan ditanami berbagai jenis tumbuhan yang menghasilkan rupiah, pohon pun di tebang, dan dibakar dengan bangganya tanpa berpikir panjang. Akibat dari itu semua, tunas-tunas muda pun ikut musnah tanpa jejak. Mengapa mereka sungguh kejam memusnahkan paru-paru dunia itu? Pertanyaan itu melekat di benak setiap orang. Jawabannya sangat singkat, karena krisis ekonomi yang membuat orang-orang tidak berpikir panjang tentang generasi berikutnya.

            Saat pembakaran hutan, asap akan menyebar dengan cepatnya bagaikan kilat yang menyambar. Meluas kemana-mana, sampai ke negara tetangga. Seperti tahun lalu, banyak provinsi yang terdeteksi memiliki titik api. Sebagai contoh, Jambi yang telah mengakibatkan asap pembakarannya sampai ke kota Padang. Pulau Sumatera pun diselimuti kabut asap yang sangat tebal. Penyakit ispa menyerang siapa pun yang menghirup asap pembakaran tersebut.

            Maka dari itu, jagalah pohon yang berada di sekitar kita. Jangan biarkan ia musnah, dan paru-paru dunia pun menghilang. Jagalah alam ini, agar tetap lestari, dan keindahannya harus dipertahankan.(Adhifa Azra/MAS KMI Diniyyah Puteri)

Masjid yang Layak

Masjid adalah tempat yang takasing bagi kita. Tempat ibadahnya umat Islam yang sangat diperlukan, apalagi banyak penduduk Muslim di Indonesia. Di tempat-tempat yang sulit ada masjid, terkadang ada mushola kecil sebagai penggantinya. Tapi, masih banyak masjid yang kurang layak atau kurang baik akibat kurang terawat.

Pertama, banyak kamar mandi masjid yang kotor. Jika kotor, pasti orang yang pergi ke masjid itu merasa tidak nyaman. Hal ini memang sering terjadi.

Kedua, ada air di kamar mandi yang kurang bersih. Padahal, air bersih sangatlah diperlukan karena itu adalah syarat sah wudhu. Air kotor membuat wudhu tidak sah dan dapat menyebabkan penyakit kulit.

Ketiga, masalah tempat wudhu. Tempat wudhu laki-laki dan perempuan harus dipisah. Itu pasti! Tempat wudhu perempuan harus tertutup karena saat berwudhu, perempuan pasti akan membuka auratnya, seperti kepala, telinga, lengan, dan kaki untuk dibasuh.Jika terbuka, laki-laki akan melihat mereka dan itu menimbulkan dosa.

Keempat, masih ada masjid yang kurang bersih, tapi ini jarang terjadi. Walaupun begitu, jangan dianggap sepele. Pembatas antara laki-laki dan perempuan juga tidak boleh pendek karena laki-laki akan bisa melihat apa yang sedang dilakukan perempuan, seperti membuka jilbab, sedang memakai jilbab, dan lain-lain.

Untuk itu, masyarakat tidak boleh tinggal diam. Masyarakat harus lebih peduli terhadap tempat umum di sekitar mereka. Pemerintah juga harus ikut memperbaiki tempat-tempat umum, seperti masjid yang kurang baik kondisinya.(Zikra/MTs DMP Diniyyah Puteri)