Pendidikan Karakter Tanpa “Parenting”, Runtuh !

 DSC 0420a

Oleh. Dra. Eva Delva, M.M.Pd

(Praktisi dan Trainer Parenting)

 

Pendidikan karakter sebagaimana yang dicanangkan oleh Presiden SBY menjadi program nasional pendidikan kita belakangan.

 

Sebab mengapa pentingnya Pendidikan Karakter difokuskan? Jawabannya   mengingat potret yang telah menjadi pemandangan umum adalah kurangnya sikap rasa menghargai anak kepada orang tuanya, atau siswa kepada gurunya sebagaimana yang juga kita saksikan secara bersama-sama belakangan ini.

 

            Pemandangan yang sama yang juga kita saksikan, bangsa ini juga rapuh dalam integritas kepribadian. Mudah menipu, gemar mencuri, pemarah dan brutal. Kita telah kehilangan marwah sebagai bangsa yang sopan, berbudi dan penuh kasih sayang terhadap sesama. Yang kita ketahui, semua perilaku teladan itu sudah tidak diajarkan disekolah manapun sampai sekarang.

 

Sebaliknya, orang tua, guru dan siswa lebih mengejar nilai (angka ) atau target penyampaian materi pelajaran ketimbang memperhatikan proses pembelajaran etika dan kejujuran di rumah dan di sekolah yang tidak dipandangnya pula sebagai bagian dari proses pembentukan karakter Si Anak.

 

            Hal yang memiriskan adalah disaat berlangsungnya Ujian Nasional, maka, oknum siswa, guru hingga Kepala Sekolah begitu teganya mendidik siswanya untuk berlaku curang selama proses ujian berlangsung. Bahkan, tindakan itu sengaja diorganisir dengan berbagai cara yang tidak dbenarkan agama.Jadi, pendidikan kita bukan membentuk insan bertanggungjawab dan jujur, tetapi mencetak bangsa yang sudi menipu diri sendiri dan orang lain.

 

            Diakui bahwa Pendidikan Karakter telah hampir lima tahun diwacanakan dan diterapkan diberbagai jenjang sekolah di negeri ini, sebagai mainstream tujuan pendidikan kita saat ini.   Banyak pihak, mulai dari Kementrian Pendidikan Nasional hingga kepada Kepala Diknas Kabupaten/Kota, mulai sadar betapa pentingnya pendidikan karakter itu ditanamkan kepada anak didiknya secara lebih dini lagi.

 

Sayangnya, pendidikan dan pembentukan karakter siswa atau anak, tidak sepenuhnya dipahami oleh kebanyakan pejabat, kepala sekolah dan guru bersangkutan. Mereka hanya fokus mengedepankan sisi pengembangan minat dan hobi anak di sekolah. Memberikan kesempatan kepada mereka melatih syaraf motoriknya. Kemudian memberikan waktu bermain yang lebih luas lagi dengan harapan, karakter anak akan terbentuk dengan sendirinya. Ini sebuah asumsi yang keliru.

 

Apapun pembenahan kurikulum yang dilakukan di sekolah sebagai cara untuk memulai pembentukan karakter akan bernilai sia-sia jika pendidikan Parenting (keorangtuaan ) tidak pula diajarkan kepada para guru dan orang tua siswa itu sendiri.

 

Pendidikan Karakter Harus Sejalan dengan   Parenting

 

Kenapa harus Parenting didahulukan ? Mengingat, hubungan antara Parenting dengan Pembentukan Karakter sangat erat kaitannya. Keduanya ibarat dua sisi keping mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Jika satu ditiadakan, maka sisi yang lain tidak akan memiliki nilai (harga) sama sekali.

 

Sebagaimana kerap penulis sampaikan bahwa pada training Parenting, fokusnya adalah melatih dan melakukan penguatan kepada para guru dan orang tua siswa untuk membangun komunikasi empatif dan simpatif kepada anak didiknya dalam berbagai situasi yang dibarengi dengan sikap penuh keteladanan dari orang tua dan guru tersebut.

 

Anak akan merasa dihargai jika cara komunikasi orang tua atau guru baik kepada mereka. Sebaliknya, anak akan berlaku diluar kendali, ketika cara guru dan orang tua dalam hal berkomunikasi sangat buruk diterimanya.

 

Komunikasi yang baik dan bagus sebagai pokok dari materi Parenting, akan terjadi jika para guru dilatihkan secara continue dalam kesehariannya, termasuk juga untuk orang tua di rumah untuk membiasakan bertutur yang baik dan penuh empati.

 

Banyak pengalaman membuktikan, anak-anak pemurung, sedih, kecewa dan bahkan suka ngembek, bisa ditaklukan dengan seni komunikatif empatif dari orang tua dan guru. Sebaliknya ketika guru dan orang tua tidak mendapatkan teknik yang tepat, jangan harap mereka akan mampu menggali problem yang dihadapi sianak. Justru sianak akan bersikap cuek sehingga solusi untuk mengatasi masalah sianak tidak tercapai.

 

Banyak masalah yang terjadi antara anak dengan orang tua atau guru dengan siswa sesungguhnya bermula dari komunikasi yang buruk tadi tanpa mereka sadari. Kadang anggapan mereka cara yang biasa dilakukan selama ini adalah lumrah, padahal cara itu telah menjadi racun dalam perkembangan kepirbadian sianak didik.

 

Untuk mendeteksi kesalahan dan kekeliruan cara komunikasi yang jelek, itu pada Training Parenting, dikenalkan kepada peserta 12 gaya komunikasi (kesalahan) populer yang telah merusak jutaan jiwa anak bangsa.

 

Manfaat Training Parenting

 

Training Parenting, yang sudah memasuki gelombang ke-10 di Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, diakui sangat membantu para guru dan orang tua santri dari berbagai profesi yang berbeda, dalam menangani masalah yang dihadapi anaknya baik di sekolah maupun di rumah.

 

Bahkan banyak cara dan tindakan dari orang tua yang selama ini keliru ketika mereka melihat dari Perspektif Parenting. Akhirnya mereka pun menyadari bahwa,orang tua juga perlu dilatih untuk membangun komunikasi empatif untuk mencairkan suasana batin anaknya yang resah atau kalut karena dihadang masalah.

 

Pendidikan Karakter Tanpa   Parenting, Mustahil !

 

            Pendidikan karakter tanpa adanya latihan-latihan komunikasi dan keteladanan kepada guru dan orang tua, mustahil akan membentuk siswa yang berkarakter sopan dalam bertutur kata, jujur, dan bertanggungjawab.

 

           Pendidikan karakter itu sesungguhnya harus dimulai dengan pendidikan Parenting kepada guru dan Orang tua. Disini, guru dan orang tua dibenahi terlebih dahulu sebelum kita membenahi anak didik.

 

            Jika sekolah hanya sibuk dengan pembenahan siswanya tanpa membenahi gurunya terlebih dahulu, maka program pembentukan karakter di sekolah akan runtuh dengan sendirinya, lantaran peran guru di sekolah dan orang tua di rumah tidak dilatih untuk melakukan penguatan-penguatan latihan komunikasi perspektif Parenting. Dengan sendirinya, pendidikan karakter jalan ditempat.

 

Penulis adalah Ketua Jurusan PGRA Di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Diniyyah Puteri Rahmah El Yunusiyyah/ Trainer Diniyyah Training Centre  

 

Meringkas Catatan Pelajaran dengan Teknik Peta Pikiran ( Cara Efektif Mengulang Pelajaran)

di jepang

Oleh Ahmad Rifa’i

Trainer Diniyyah Training Centre Diniyyah Puteri Padang Panjang

                Kebanyakan siswa atau mahasiswa kerap gagal dalam menjawab soal saat menghadapi ujian tertulis. Bukan lantaran tidak menghafal atau mengulang pelajaran, namun lelah membolak balik halaman demi halaman buku catatannya. Tak jarang dalam situasi ini putus asa, lembaran lebih banyak kosong daripada terisi. Kegagalan dalam menjawab soal pada media ujian tertulis berujung pada pencapaian nilai hasil belajar yang rendah.  

Kegagalan siswa atau mahasiswa, dalam kasus ini, boleh jadi masih terjebak memakai metode kuno; mengulang kembali pelajaran tanpa membuat pokok pikiran pada sehelai kertas. Tidak ada catatan penting dan item penjelasan disana. Ada lagi, yang lebih parah, sengaja membaca atau menghafal materi pelajaran sampai lembaran catatan terakhir, tanpa ada ringkasannya.

Pada saat ini, dapat dibayangkan betapa kelabakan mereka untuk membuka semua buku catatannya dari berbagai mata kuliah yang diambil. Maka istilah SKS alias Sistem Kebut Semalam menjadi menu rutin mahasiswa saat musim ujian tiba; begadang semalam suntuk hanya demi mengulang dan menghafal pelajaran demi ulangan atau ujian yang akan dihadapi besok pagi.

Sebenarnya, dalam belajar apalagi mengulang pelajaran telah ditemukan rumus efektif meringkas pelajaran. Diperkenalkan pertama kali oleh Tony Buzan dalam bukunya, “ Mind Mapp”’ alias peta pikiran ditahun 1992. Setahun sebelum itu, penulis ternama Gren Gawith telah memperkenalkan serupa dalam bukunya yang berjudul ” Power Learning.” Enam tahun kemudian, tepatnya ditahun 1997, dua orang penulis keren,  Colin Rose dan Malcolm J Nicholl, menerbitkan karya yang hampir sama dalam buku mereka yang berjudul :” Accelerated Learning for The 21 st; Cara Belajar Cepat abad 21.”

ab

Buku itu menjelaskan bagaimana membuat ringkasan pelajaran yang tadinya dicatat menghabiskan puluhan lembar buku catatan, cukup hanya dalam bentuk satu helai kertas. Karena catatan tadi dirobah dalam bentuk skema dan gambar.    

Jika para penemu cara belajar cepat diatas kebanyakan dari daratan Amerika dan Eropa, sekarang kita berbangga, buku terbaru dalam kemasan islami hadir dengan lebih praktis dan mudah dipahami. Buku itu, memperkenalkan sistem belajar cepat dengan kombinasi membuat peta, gambar dan jadwal, dengan judul MAPPiCXS ( Mapping, Pictures dan Matrikulasi); Berpikir seperti Jenius.”

aa

Buku ini disusun oleh Prof. Sha’aya Othman, Guru Besar di Koleg University Islam Antar Bangsa Selangor Malaysia. Buku yang diterbitkan pada pertengahan Mei 2015 itu dinilai sukses membantu ratusan mahasiswa yang hampir Drop Out (DO) karena gagal dalam belajar, utamanya dalam mengulang pelajaran sebelum menghadapi ujian semester.

Saat berkunjung ke Perguruan Diniyyah Puteri juni 2015 silam, beliau mewakafkan ilmunya kepada trainer, guru dan ustadzah asrama. Amat menarik, karena teknik belajar ala peta pikiran itu, adalah berangkat dari pengalamannya sendiri yang terbukti berhasil. Tepat ditahun 1966 saat masih duduk di   Sekolah Dasar, jauh sebelum Tony Buzan membuat gagasan peta pikiran, Ia telah meraih berbagai nilai A untuk berbagai mata pelajaran sebelum masuk universitas, atau selama menjadi mahasiswa dengan metode ini.

Dalam bukunya, yang disambut hangat oleh banyak mahasiswa di Malaysia itu, beliau mengakui, saat itu sangat tidak mungkin dia dapat belajar dengan baik karena mata sebelah kiri buta sebelah dan sebelah kanan, nyaris serupa. Guru-guru di sekolah telah memvonis bahwa dia akan gagal dalam mengikuti pelajaran seperti siswa kebanyakan karena faktor tadi.

Dia tidak begitu mudah menyerah, guna memudahkan dirinya untuk dapat menyimak materi pelajaran dengan baik, dibuatlah sebuah skema gambar atau peta untuk mengingat poin-poin penting yang diterima dari sang guru. Strategi tadi, ternyata jitu dilakukan saat menghadapi ujian sekolah, dia mendapat nilai tertinggi di semua mata pelajaran.

Sebenarnya ada beberapa langkah untuk membuat ringkasan pelajaran agar mudah dipahami siswa atau mahasiswa menurut buku MAPPiCXS, antara lain; Pertama, peserta didik membuat lingkaran diatas seheli kertas kosong, sebagai topik pelajaran. Kemudian membuat garis dari lingkaran tadi menjadi beberapa garis, yang ini bisa disebut sub bab dari materi pelajaran. Selanjutnya, jika ada sub bab kedua, inilah yang dibagi lagi menjadi beberapa garis. Hasil akhirnya akan kelihatan seperti cabang pohon, atau silsilah atau ranji yang menyebar kemana-mana.

Kedua, gambar peta pikiran yang dilukis tadi, disisipi dengan gambar-gambar keterangan pendukung disamping peta tadi. Sedapatnya, pembuatan peta pikiran harus menggunakan pena berwarna agar lebih menarik dan saat dibaca, mata tidak mudah lelah atau mengantuk. Utamanya, tulisan harus ditulis jelas dan ringkas.

Ketiga, tetap memakai sistem pertama, tetapi, cabang tadi, dibagi ke dalam beberapa bentuk tabel jadwal atau matrik. Cara ini biasanya untuk mengulang pelajaran bahasa inggris atau grammar bahasa inggris yang   melingkupi, Verbs, Nouns, Sentencence, Adverbs, Adjectives, Pronouns dan lain-lain. Contoh penggunaan bahasa tadi akan lebih mudah dibuatkan dalam bentuk tabel diujung cabang-cabang tadi. Jadi lebih mudah dan sederhana ketika tampilan percakapan atau contoh kalimat dalam bentuk tabel dibanding dalam bentuk tulisan yang menghabiskan lima halaman buku.

bb

Sistem MAPPiXCS tidak hanya digunakan oleh siswa atau mahasiswa. Siapa saja dapat menggunakan teknik ini. Dosen dalam meresume bahan mengajar, guru, ustadz, atau manajemen sebuah perusahaan atau bahan untuk rapat dapat pula menerapkannya.

Jadi, dalam belajar, dan mengulang pelajaran, ada teknik tersendiri. bukan asal menghafal dan mencatat. Memang membuat lukisan atau gambar peta pikiran ini diawali dari sumber bahan catatan atau dari sebuah buku yang akan dibaca. Karenanya akan lebih cepat dengan teknik peta pikiran, karena  itu adalah semacam strategi untuk memahami pelajaran yang diterima dari guru dalam bentuk gambar yang mudah dipahami; biasanya kalau ditulis, bisa menghabiskan banyak halaman, tetapi dengan cara ini cukup satu lembar saja dituliskan. Tidak itu saja, untuk meringkas buku yang tebalnya sampai 200 halaman bisa hanya dalam satu lembar kertas folio. Hanya saja, teknik ini harus dilakukan secara serius bagi yang ingin sukses dalam menghadapi ujian dan yakin dia dengan cara ini siswa akan mendapatkan prestasi mencengangkan.

cca

Untuk mendapatkan keberkahan dalam belajar dan ujian, diakhir buku MAPPiXCS, penulisnya, membekali sebuah hadist yang cukup panjang, yakni sebuah kisah tentang doa untuk menguatkan hafalan. Hadist ini dijelaskan Ibnu Abbas dalam Sunnan Tarmidzi, tentang Ali Bin Abi Thalib yang mengadu kepada Rasulullah, bahwasanya hafalan Qur’annya hilang, lalu Rasululah memberikan resepnya, yakni sholat sunnat empat rakaat di malam Jumat dimana setiap rakaat setelah Al Fatihah, dibaca surat Yasin, surat Hamim Adhukhan, As Sajadah dan rakaat terakhir surat Muluk atau Tabaraka. Kemudian Rasulullah mengajarkan sejumput doa yang harus dibaca sehabis sholat.  Kemudian tidak sampai tiga kali jumat, Ali pun lancar kembali dalam mengulang hafalan Al Qurannya, beliaupun memberitahu Rasulullah akan hal itu. Hadis ini terbilang Hasan Gharib. (Kamis 30 Juli 2015)


“Mengantisipasi Efek Negatif Era Globalisasi Dan Informasi”

By. Zulfikri, S.Th.I, M,Hum

            Zaman sekarang ialah zaman modern, ada orang menyebutnya zaman canggih. Istilah terbaru ialah Era Globalisasi dan Informasi. Tentu kita bertanya di dalam hati kita masing-masing apa sesungguhnya yang disebut Era Globalisasi dan Informasi? Nah! Era Globalisasi dan Informasi ialah suatu masa atau zaman yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini diilhami oleh firman Allah dalam surat Ali-Imran ayat 190  yang artinya sebagai berikut ;

“Sesunggunya penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berpikir’. (Q.S. Ali-Imran [3] : 190)

            Kemudian dalam surat Ar-Rahman ayat 33 Allah juga berfirman yang artinya sebagai berikut:

“Wahai sekalian jema’ah jin dan manusia, sekiranya kamu sanggup melintasi penjuru langit dan bumi (angkasa luar) silakan lintasi, tapi kamu tiada akan sanggup melintasinya kecuali dengan kekuatan”.(Q.S. ar-Rahman [55] : 33)

            Beranjak dari firman Allah Swt tersebut, maka menjadi keniscayaan yang wajar manusia berkembang dan mengembangkan dirinya dengan menggunakan instrument dan bahan yang ada di bumi. Akibat dari berpikir, menganalisa dan melakukan percobaan, maka terjadilah perkembangan ilmu pengetahuan. Diantara perkembangan ilmu pengetahuan tersebut yakni : perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu botani, zoologi, arkeologi, farmasi, kimia, biologi, astronomi, dalam bidang komunikasi dan lain sebagainya. Itulah beberapa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semua perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu suatau bentuk kasih sayang serta rahmat Allah Swt. Semua kenajuan itu merupakan efek posistif dari era globalisasi dan informasi.

Era globalisasi dan informasi desamping mempunyai efek positif, juga mempunyai efek negatif. Diantara efek negatif yang ditimbulkan oleh Era globalisasi dan informasi adalah ;

  1. Adanya kecenderungan memperlihatkan bagian fisik manusia yang mestinya ditutupi (aurat). Aurat adalah sesuatu yang tidak boleh diperlihatkan kepada orang lain. Namun orang beranggapan bahwa sekarang zaman modern. maka tidak segan-segan (malu-malu) memperlihatkan auratnya kepada orang lain yang menyebabkan orang lain berdosa. Bila kita berjalan kemana-mana banyak terlihat wanita-wanita yang pakai celana pendek, baju you can see, pakai rok mini dan lain-lain.
  2. Perjudian yang terus di langgengkan.

Baik dikota maupaun di desa saat ini, gejala perjudian sudah merupakan penyakit kronis yang sangat sukar untuk diberantas. Ini sudah lama disinggung ribuan tahun lalu melalui firman Allah Swt dalam surat Al-Maidah ayat 90 yang artinya ;

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Q.S. Al-Maidah [5] : 90)

  1. Pergaulan bebas antara pria dan wanita

Tingkat relasi atau hubungan antara pria dan wanita perlu di pertimbangkan. Tidak jarang pergaulan bebas dapat mengakibatkan bobroknya nilai-nilai agama. Lebih jauh Islam dipandang sebagai agama yang tidak konsisten dengan ajarana-ajaranya sendiri.

  1. Menurunnya nilai-nilai agama

Salah satu gejala yang sangat berbahaya saat ini adalah adanya kecenderungan orang tidak begitu peduli dengan agama. Salah satu contohnya ialah ; bila ada perbuatan maksiat dalam suatu daerah, orang cuek dan seolah-olah tidak mau tahu saja. Disini terkesan seolah agama itu hanya simbol belaka. Selain itu banyak generasi yang lahir, namun mereka tidak begitu peduli dengan agama. Umat Islam hanya unggul dalam kuantitas tetapi kalah dalam kualitas.

  1. Gaya hidup Materialistis dan Individualistis.

Di zaman modren ini orang diumpamakan “mabuk” mencari harta sebanyak-banyaknya tanpa peduli dengan nasib orang lain, dengan cara apapun. Padahal Islam sesungguhnya ialah menampilkan suatu bentuk tatanan ekonomi berimbang, makanya ada pensyariatan zakat atau sedekah dalam Islam. Untuk terciptanya suatu tatana masyarakat muslim yang secara ekonomi stabil.

  1. Nyanyi-nyanyian yang jauh dari aspek moral ke-Islaman

Pada dasarnya lagu adalah salah satu bentuk ekspresi dari daya imajinasi seni manusia. Dan dalam Islam hal ini diperbolehkan. Namun yang perlu menjadi tekanan ialah apabila nyanyian, lagu tersebut memuat konten syair/baitnya yang negatif. Terlebih dapat memalingkan dalam hal peribadatan pada Allah Swt.

Dengan banyaknya pengaruh negatif dari Era globalisasi itu untuk mengantisipasinya Allah Swt telah memberikan tuntunan dalam surat An-Nisa’ ayat 9 yang artinya :

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S. An-Nisa [4] : 9)

Lebih jauh untuk mengantisipasi efek negatif dari Era globalisasi dan informasi tersebut perlu mengambil langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Kita laksanakan ajaran Islam secara murni dan konsekuen
  2. Kita saring budaya asing yang masuk ke Indonesia, yang baik kita ambil dan yang jelek kita tinggalkan atau kita buang.
  3. Kita ciptakan generasi yang kuat, yang punya ilmu pengetahuan, punya keterampilan, punya akhlak yang baik serta iman yang mantap. Wallahu ‘alam

Empat Pesan Anies Baswedan diawal Tahun Ajaran

di jepang

Oleh. Ahmad Rifa’i

Trainer Diniyyah  Training Centre Diniyyah Puteri Padang Panjang

 

                Tidak ada yang berubah dengan Anies Baswedan, baik sebelum menjadi menteri, maupun saat menjadi orang nomor satu di Kementrian Pendidikan dan kebudayaan Republik ini. Ia rajin turun ke bawah. Meminjam istilah Jokowi, blusukan ke sekolah-sekolah. Momentum tahun ajaran baru ini tidak dilewatkannya dengan tiga pesan penting.

Pertama,   saat sidak ke SMKN Tangerang, rabu( 29/7/15), Sang menteri meminta semua siswa baru melepaskan atribut aneh yang dikenakan mereka. Menteri pun mengingatkan kepala sekolah dengan Peraturan menteri no. 55 tahun 2014 tentang surat edaran menteri kepada sekolah-sekolah untuk melarang semua kegiatan atau atribut yang merendahkan dan memalukan siswa yang mengarah kepada perpeloncoan.

Dengan terang-terangan, Anies meminta semua pihak yang tahu adanya tindakan perploncoan ini jangan diam dan mendiamkan saja, harus berani melawan untuk merubah sistem kebiasaan yang ada. “ Mereka ini tujuannya untuk belajar bukan untuk dipermalukan apalagi direndahkan derajatnya," tandas Anies.

Bahkan di depan siswa SMKN Tangerang ia mengingatkan siswa baru, jika mereka dipermalukan atau direndahkan mereka harus berani melawan senior yang jumlanya sedikit.              “ Kalian harus berani menolak tindakan perpeloncoan," tegas Anies.

Dia juga siap memberikan rekomendasi untuk pemberhentian kepala sekolah yang tidak mensosialisasikan aturan-aturan yang melarang saat Masa Orientasi Sosialisasi Peserta Didik Baru (MOPBD). Menyoal maraknya akis perpeloncoan dilaksanakan, Anies menyimpulkan karena ketidaktahuan panitia atas terbitnya permen itu, bahkan kepala sekolah tidak turut pula memberi tahu.

Kedua, sang menteri pun tidak lupa mendatangi beberapa Sekolah Dasar. Beberapa foto dokumentasi terlihat mantan Rektor Paramadina ini tengah melakukan salam komando dengan siswa SD.   Pendiri Yayasan Indonesia Mengajar ini juga mengaku kasihan melihat tas anak-anak seusia ini kian berat dan ia menyarankan untuk sekolah jangan memberi beban materi yang berat kepada anak-anak diawal sekolah, karena itu bakal mempengaruhi struktur pertumbuhan tulang punggungnya. Faktanya saat mahasiswa nanti, punggungnya akan bermasalah.

Ketiga, menyoal Kurikulum 2013 yang dinilainya belum siap, dan terkesan membebani anak dengan berbagai tugas pelajaran. Menurutnya, kurikulum ini sedang diperbaiki, karena itu jangan coba-coba dengan kebijakan yang belum siap, seperti kurikulum 2013 yang lalu, muncul masalah faktor karena salah satu faktornya adalah kesehatan.

Ini sangat beralasan, menurut penelitian, Dr Daniel Nugroho, AMF, fisioterapis dari Klinik Eastwest Physiotherapy & Rehabilitation, jika anak terlalu sering memikul beban yang terlalu berat akan berbahaya bagi struktur tubuhnya nanti. Anak sekolah dasar merupakan usia saat tubuhnya masih berkembang dan tumbuh. Jika terjadi sesuatu yang bisa mengganggu proses pertumbuhannya akibatnya baru akan terasa setelah si anak dewasa atau mulai memasuki usia 17 tahun ke atas.

Keempat, memberi motivasi siswa sekolah dasar tidak perlu diajarkan harus menjadi apa kedepannya, tetapi jauh melangkah, ingin berbuat apa untuk bangsa dan negara kedepannya. Menjadi apa dengan berbuat apa, dua hal yang berbeda. Jika ingin menjadi apa, adalah berkaitan dengan cita-cita, tetapi ingin berbuat apa, adalah sebuah bentuk kerja nyata. Ini sangat menarik.

Hemat penulis, banyak orang sudah mencapai cita-citanya, sumbangsih untuk negara tidak ada. Tetapi, ingin berbuat yang terbaik kepada bangsa ini tidak perlu menunggu gelar, jabatan dan atribut prosesi lainnya. Yang kita lihat, koruptor justeru datang dari kalangan akademis, perwira, hakim,pengacara, anggota dewan dan para kepala daerah yang tersangkut korupsi. Mereka bukan memberikan sumbangsih untuk negara, melainkan memeras, atau mencuri kas negara.

Anies bukanlah tipe menteri yang gemar melakukan rapat atau briefing dari ruang pertemuan satu ke pertemuan berikutnya. Ia gemar turun tangan sebagaimana kebiasaan lama yang ia bangun untuk bisa bersentuhan dengan masyarakat sewaktu mengomandoi Yayasan Pendidikan yang dibentuknya, yang bertujuan sebagai sebuah ikhtiar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

         Menyimak rekam jejak Gerakan Indonesia Mengajar sesungguhnya diinspirasi proses panjang yang dibangun selama bertahun-tahun. Proses ini adalah gabungan dari: Pelajaran dari berbagai generasi, Perjalanan aktivitas pengabdian maupun interaksi dengan berbagai masyarakat, Pengetahuan modern yang dipetik dari dunia akademik global.

Meminjam slogan lembaga ini, “karenanya berhenti mengeluh tidaklah cukup. Berkata-kata indah penuh semangat juga tidak pernah cukup. Lakukan sesuatu sekarang. Bergabung dalam kerumunan positif dan terlibat membangun masyarakat sipil yang kuat.” Inilah yang sedang dibangunkan Anies, untuk Indonesia dengan sumber daya manusianya yang kedepannya memiliki kompetensi global beserta pemahaman akar rumput, Indonesia akan sanggup berpijak dan mengabdi bagi kepentingan nasionalnya di tingkat dunia, demi memenuhi semua janji kemerdekaan bagi rakyatnya.

 

TUNDUKKAN HAWA DENGAN PUASA

Yendri Junaidi, MA

(Dosen STIT Diniyyah Puteri Padang Panjang)

Tersebutlah kisah seorang ulama dari kalangan Bani Israil bernama Bal'am bin Ba'ura`. Ia hidup di zaman Nabi Musa as. Di samping seorang ulama ia juga seorang yang sangat taat dalam beribadah. Sampai-sampai ia dikaruniakan Allah swt sebuah kelebihan yaitu ia diberi tahu ismullah al-a'zham (nama Allah yang paling agung). Seseorang yang mengetahui nama ini doanya pasti akan dikabulkan oleh Allah swt.

Suatu hari ada beberapa orang Bani Israil yang sudah lama memendam rasa benci dan permusuhan kepada Nabi Musa as, datang menemui Bal'am bin Ba'ura`. Mereka berkata: "Wahai Bal'am, gunakanlah kelebihanmu itu untuk mendoakan keburukan dan kebinasaan untuk Musa dan para pengikutnya." Bal'am terkejut. "Mana mungkin aku doakan kelebihanku ini untuk mencelakakan seorang Nabi yang diutus oleh Allah swt." Tapi mereka terus membujuk dan merayu. Mereka pun menyogok Bal'am bin Ba'ura` dengan harta yang sangat melimpah untuk menundukkan idealismenya.

Bal'am akhirnya takluk. Ia pun mendoakan keburukan terhadap Nabi Musa as dan para pengikutnya dengan menggunakan ismullah al-a'zham yang diketahuinya. Tapi kali ini Allah swt tidak mau mengabulkan doanya, karena Bal'am telah mengikuti hawa nafsunya kepada harta dan menggunakan agama untuk mendapatkan kesenangan duniawi. Bal'am kemudian ditunggangi oleh setan. Ia menjadi pengikut setan yang setia. Dan kisah inilah -menurut para ulama- yang dimaksud di dalam firman Allah swt surat al-A'raaf ayat 175-176.

Ternyata keulamaan dan ketaatan Bal'am bin Ba'ura` tidak berdaya di depan hawa terhadap harta dan kekayaan. Bal'am tentu bukan tokoh agama satu-satunya yang menjadi korban hawa harta dalam sejarah manusia. Ia hanyalah satu dari sekian banyak tokoh agama, ulama, kiyai, buya dan sejenisnya yang akhirnya menyerah ketika berhadapan dengan keinginan untuk merubah hidup dan mengecap kesenangan duniawi yang memang menggiurkan itu.

Kita tinggalkan sejarah masa lampau sejenak. Mari kita tukikkan pandangan ke masa ini. Tak jauh-jauh. Peristiwa itu terjadi di Ranah Minang. Bulan Februari 2013 lalu diberitakan bahwa seorang Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) di wilayah Padang Pariaman tertangkap basah melakukan mesum di dalam mobil pribadinya dengan seorang siswi SMA. Ternyata posisinya sebagai Kepala KUA yang tugas utamanya adalah meresmikan hubungan lawan jenis tidak mampu menahan syahwatnya kepada seorang gadis matah.

Sekarang kita layangkan pandangan ke ibu kota Jakarta. Di suatu pagi, dalam sebuah acara televisi swasta, terjadi dialog antara seorang juru bicara sebuah ormas Islam dengan seorang pengamat sosial. Awalnya dialog berlangsung biasa. Tapi setelah itu sang pengamat memotong pembicaraan jubir ormas Islam. Sang jubir pun emosi. Ia tak mampu mengendalikan amarahnya. Akhirnya ia ambil gelas berisi teh di depannya lalu disiramkannya kepada sang pengamat. Peristiwa ditonton oleh sekian juta pemirsa di seluruh Indonesia. Label sebagai aktivis Islam tidak mampu mengerem nafsu amarah sang jubir sehingga ia melakukan tindakan yang memalukan itu.

Kenapa semua ini bisa terjadi? Kenapa keulamaan Bal'am bin Ba'ura` tidak mampu menahan nafsunya terhadap harta dan kekayaan? Kenapa posisi dan jabatan si Kepala KUA tidak berdaya menyetop syahwatnya kepada seks? Kenapa label dan merek sebagai aktivis Islam seakan tak berarti apa-apa menghadapi nafsu amarah yang ingin segera diluapkan?

Semua itu bisa terjadi karena satu kata kunci: hawa nafsu. Baik hawa nafsu kepada harta, seks, amarah dan sebagainya. Siapapun akan dihinggapinya. Dan siapapun bisa saja menjadi korbannya. Tak peduli betapa tinggi ilmu agamanya, terhormat posisinya atau dikenal namanya oleh banyak orang. Kalau pertahanan iman dan jiwanya lemah maka ia akan ditaklukkan oleh yang namanya hawa.

Setiap orang bisa saja mengaku sebagai orang yang bersih. Siapa saja sah-sah saja mengklaim dirinya jauh dari dosa dan kemaksiatan. Tapi pengakuan dan klaim itu butuh pada pembuktian. Bagaimana pembuktiannya? Pembuktiannya adalah ketika ia dihadapkan pada kondisi-kondisi yang nyata dan riil keseharian. Kondisi-kondisi keseharian itu akan menjadi cobaan dan ujian terhadap keimanannya. Benarkah ia seorang yang bersih dan berpribadi suci atau itu hanya sebuah klaim kosong tanpa bukti.

Kita sering mendengar pertanyaan seperti ini: apa beda iman dengan Islam? Jawaban yang biasa kita dengar adalah iman itu sebuah keyakinan sementara Islam adalah amal keseharian. Iman memiliki enam rukun sementara Islam memiliki lima rukun. Tentu itu tidak salah. Tapi perbedaan yang paling penting antara iman dengan Islam adalah kalau Islam lebih bersifat warisan (saya Islam karena saya dilahirkan dalam keluarga yang muslim), sementara iman adalah pengalaman ruhani setiap individu muslim.

Contoh sederhana untuk hal ini adalah shalat berjamaah. Sebutlah ada lima orang sedang shalat berjamaah, salah seorangnya menjadi imam. Kelima orang tersebut melakukan praktek ibadah yang sama. Mereka sama-sama berdiri, kemudian rukuk, lalu sujud, terakhir salam. Tapi apakah kondisi ruhani atau kejiwaan yang mereka rasakan selama shalat itu sama? Jelas tidak. Ada yang benar-benar menghayati bacaan demi bacaan dalam shalatnya. Sehingga tanpa terasa hatinya gemetar dan matanya mengeluarkan air. Ada yang berusaha sekuat tenaga untuk konsentrasi tapi selalu diganggu oleh pikiran-pikiran lain. Ada yang berpikiran bagaimana secepatnya selesai untuk merampungkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Bahkan ada yang shalatnya sambil bermain-main dan menghayal kemana-mana.

Itulah beda seorang muslim dengan mukmin. Muslim itu warisan, tapi mukmin itu pengalaman. Hanya orang-orang yang pernah merasakan pengalaman ruhani dan ketenangan batinlah yang akan berhasil mengontrol dirinya dari berbagai bisikan hawa nafsu. Hanya mereka yang benar-benar menyadari nilai sebuah keimanan dan ketaatan yang akan mampu menundukkan hawa nafsunya. Oleh karenanya, ketika Allah swt menyeru manusia untuk berpuasa, Dia tidak mengatakan: Ya ayyuha alladzina aslamu... (wahai orang-orang yang telah Islam). Tapi Dia mengatakan: Ya ayyuha alladzina amanu... (wahai orang-orang yang telah beriman).

Bagi kita yang selalu saja dikalahkan oleh hawa, ditundukkan oleh nafsu, tidak kuasa menahan berbagai keinginan, maka inilah saatnya untuk menang. Allah swt menyediakan untuk kita sarana untuk latihan. Itulah bulan Ramadhan. Ramadhan adalah bulan untuk menundukkan hawa nafsu, mengekang syahwat, mengontrol keinginan-keinginan, merencanakan program-program, dan membersihkan pribadi. Jangan sia-siakan kesempatan emas ini. Jadikan puasa sebagai cara untuk menundukkan hawa.

Wallahu a'lam.