Motivasi Kita Bekerja

motivasi kita kerja

Dalam hidup ini, kita pasti sering menyaksikan seseorang yang mengeluh dengan pekerjaan yang ia jalani. Dengan wajah sedih ia mengatakan sudah bosan dengan pekerjaannya yang itu-itu saja. Tak ada kemajuan yang didapatkan. Sehingga baginya bekerja hanya sekedar memenuhi kewajiban tanpa ada tujuan yang jelas. 

Sungguh. Masing-masing kita tentunya memiliki pekerjaan. Apakah itu jadi pedagang, petani, pegawai negeri, karyawan swasta, guru, dan lain sebagainya. Dengan adanya pekerjaan tersebut, kita bisa menafkahi diri sendiri dan keluarga yang kita cintai. Namun adakalanya kita merasa jenuh menjalani pekerjaan tersebut. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Bisa saja karena pendapatan yang tak kunjung meningkat, bos pemarah, anak buah yang susah diatur, atau beragam masalah lainnya. 

Supaya selalu bersemangat dalam bekerja, kita hendaklah memiliki motivasi. Dalam Islam, motivasi bekerja adalah untuk mencari nafkah yang merupakan bagian dari ibadah. Bekerja bukan sekedar pengisi waktu luang, mendapatkan status, apalagi untuk mengejar kekayaan. Tapi bekerja adalah untuk beribadah.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla. (HR. Ahmad)

Luar biasa, dikatakan dalam hadits di atas bahwa mencari nafkah adalah seperti mujahid, artinya nilainya sangat besar. Allah SWT suka kepada hamba-Nya yang mau bersusah payah mencari nafkah.

Kiranya ini lebih dari cukup sebagai motivasi kerja kita sebagai muslim. Bahkan, kita pun berpeluang mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah.” (HR. Ahmad)

Jadi, tak ada alasan bagi kita untuk bosan atau malas bekerja, apalagi sampai jadi seorang pengangguran yang kerjanya setiap hari hilir mudik kesana kemari. Banyak jenis pekerjaan yang bisa kita jalani. Kalau tidak suka bekerja dengan orang lain, bukalah usaha sendiri. Yang penting pekerjaan yang kita jalani itu halal dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Mencari rezeki yang halal dalam agama Islam hukumnya wajib. Bukan hanya untuk memenuhi nafkah semata, tetapi sebagai kewajiban beribadah kepada Allah setelah ibadah fardlu lainnya. Rasulullah SAW bersabda, “Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa, dll). (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi).

Perlu diperhatikan dalam hadist tersebut, ada kata sesudah. Artinya hukumnya wajib sesudah ibadah lain yang fardhu. Karena itu jangan sampai karena merasa sudah bekerja, kita tidak perlu lagi melakukan ibadah-ibadah lainnya. Betapa banyak diantara kita yang membanting tulang siang malam, tapi lupa menunaikan kewajiban beribadah pada Allah SWT. 

Langkah pertama agar bekerja menjadi sebuah ibadah ialah harus diawali dengan niat, sebab amal akan tergantung niat. Niatkanlah bahwa bekerja sebagai salah satu ibadah kepada Allah SWT. Sebelum memulai pekerjaan, mulailah dengan membaca nama Allah SWT. Mohonlah kepada-Nya agar kita senantiasa diberi kemudahan selama menjalani pekerjaan, baik itu di sawah, ladang, pasar, kantor, atau tempat lainnya.

Langkah kedua ialah pastikan pekerjaan yang kita lakukan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Untuk itu kita perlu memperhatikan: Apa yang dikerjakan? Untuk apa kita bekerja? Apakah kita bekerja untuk sesuatu yang dihalalkan oleh agama?

Pastikan kita bekerja untuk sesuatu yang tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Tak kalah pentingnya adalah bagaimana cara melakukan pekerjaan kita. Apakah cara-cara kita bekerja sesuai dengan ajaran Islam? Bagaimana dengan pakaian, batasan antara laki-laki dan perempuan, dan sebagainya.

Langkah berikutnya, menyerahkan hasil pekerjaan kita pada Allah SWT. Jika hasilnya banyak, bersyukurlah. Tapi jika belum sesuai dengan harapan, bersabarlah. Sebagai hamba yang lemah, kita hanya bisa gigih berusaha. Sementara segala hasilnya terpulang kembali pada Allah SWT.

Untuk mendapatkan ridha Allah SWT, maka semangat kerja kita haruslah tinggi. Sebab motivasi kita bekerja bukan hanya harta dan jabatan, tetapi berharap pahala dari Allah SWT. Jadi, tidak sepantasnya sebagai muslim kita memiliki semangat kerja yang lemah. Sebaliknya kita hendaklah memiliki semangat yang terus berkobar, suka bekerja keras, dan jauh dari sifat malas.

Sekali lagi, tidak ada alasan bagi kita untuk malas atau jenuh dalam bekerja. Sebab motivasi kita bukan mencari uang semata, tetapi serupa dengan seorang mujahid, dosa kita diampuni oleh Allah SWT, dan tentu saja ini adalah sebuah kewajiban kita sebagai seorang hamba.

Mengapa Kita Bertaubat?

Mengapa kita bertaubat

Taubat adalah sebuah perasaan takut kepada Allah SWT yang mendorong seorang hamba untuk kembali kepada-Nya. Taubat satu kewajiban yang tidak tuntas dengan hanya dilakukan sekali saja. Ia harus dilaksanakan berulang-ulang dan terus menerus di sepanjang hidup ini.

Orang yang bertaubat, dialah orang yang takut, menyesal, dan ingin kembali. Ia menyucikan diri dari segala dosa dan maksiat, lalu kembali pada Allah SWT dengan penuh kesadaran. Ia akan berkata, 'Ya Rabbku, dosa yang kulakukan selama dua puluh tahun ini akan kuhentikan, karena cinta dan taatku pada-Mu.” Itulah taubat. Kita tinggalkan maksiat, dan kembali ke jalan-Nya.

Sebagian orang memahami taubat hanya bagi pelaku dosa besar. Mereka pun jadi malas bertaubat. Mereka mengatakan, “Untuk apa kami harus bertaubat, padahal kami tidak melakukan dosa besar. Kalau kami pendosa besar, kami tentu akan bertaubat.”

Sebuah kekeliruan jika hamba yang selalu taat pada Allah SWT menyangka tidak perlu bertaubat. Mereka menganggap taubat hanya untuk pelaku maksiat yang belum bertaubat atau kurang komitmen terhadap agama.

Taubat merupakan tugas multi tingkatan. Artinya taubat itu berlaku di semua tingkat keimanan. Ahli maksiat perlu taubat. Pelaku dosa besar perlu taubat. Pecandu dosa kecil perlu taubat. Bahkan, orang yang bertaubat pun perlu memperbaharui taubatnya. Ringkasnya, setiap orang perlu bertaubat.

Lalu mengapa kita bertaubat? Untuk memulainya, kita harus memahami kedudukan kita di hadapan Allah SWT. Harus kita sadari berapa banyak kita melanggar hak-Nya. Saat kita mulai menyadari, hati ini seakan terasa diperas. Ia seolah terbakar, hingga mulut kita pun bergumam, “Aku harus bertaubat! Aku ingin bertaubat!”

Saudaraku, kita bertaubat dari dosa besar! Mungkin kita akan mengatakan, “Aku melakukan dosa besar? Mana mungkin. Aku tidak mungkin melakukan dosa besar. Kalau aku melakukan dosa besar, seperti apa?”

Saudaraku, bukankah mengakhiri shalat itu dosa besar? Bukankah mengumpulkan dua shalat dalam satu waktu-tanpa udzur- itu dosa besar? Barang siapa yang melaksanakan shalat Dzuhur di saat shalat Ashar tiba, shalat Ashar di saat Maghrib tiba, shalat Maghrib saat shalat Isya datang, atau menjalankan shalat Subuh di saat matahari menyembulkan muka, bukankah itu dosa besar?

Itu semua dosa besar. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mengumpulkan antara dua shalat dengan tanpa udzur, maka ia telah mendatangi pintu dari pintu-pintu dosa besar.” (HR. At.Turmudzi dan al Hakim).

Apakah udzur itu? Jika alarm jam berdering, dan kita bertekad melaksanakan shalat Subuh, tetapi rasa kantuk menyerang hebat, hingga kita pun kembali tidur. Itu adalah udzur. Tetapi, jika selama dua puluh tahun kita tidak berkeinginan bangun untuk shalat Subuh, tidak menyetel alarm jam maupun minta dibangunkan, boleh jadi kita telah melakukan dosa besar.

Saudaraku tercinta, mengapa kita bertaubat? Kita bertaubat dari dosa besar. Bartaubat dari mencaci maki orangtua. Bukankah itu perbuatan dosa besar? Siapa pun pelakunya, ia telah berbuat dosa. Dosa besar yang menjadikan Allah SWT marah.

Apakah kita tahu, betapa kita sangat membutuhkan taubat? Kita bertaubat dari shalat yang diakhirkan, bertaubat dari mengakhiri shalat, bertaubat dari melakukan shalat Subuh setelah matahari terbit, bertaubat dari durhaka pada orangtua. Bukankah itu dosa besar? Ataukah kita menyangka itu dosa kecil? Janganlah dikira itu dosa kecil! Dan bukankah menutup pintu dengan nada marah di depan orangtua saat kita keluar rumah termasuk dosa besar?

Kita pun sering bergunjing. Padahal gunjingan terhadap saudara muslim itu seperti memakan bangkainya. Bayangkan, memakan daging saudara kita. Bagaimana jika memakan daging bapak atau ibu kita? Saudaraku, kita duduk-duduk bersama kawan, sembari memaki kedua orangtua kita. Ya, ini kadang terjadi. Padahal kata-kata itu adalah dosa besar. Apakah kita tidak menyadari, kalau kita telah melakukan dosa besar, dan kita butuh bertaubat? Sudahkah kita tahu, hidup kita ternyata telah bergelimang dosa?

Selanjutnya apa pendapat kita tentang zina? Itu dosa besar. Lalu, apa yang mendahului zina itu? Zina mata. Menonton televisi yang menyuguhkan film porno, atau menjelajahi situ-situs porno di internet. Bukankah itu pengantar zina? Rasulullah SAW bersabda, “Dan zina mata adalah melihat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Melihat adalah pengantar zina. Ia adalah gerbang awal dari berbuat zina. Benar, seseorang kadangkala tidak sampai berbuat maksiat dengan seorang wanita. Tetapi ia telah memasuki satu tahapan menuju perbuatan zina, yakni zina mata.

Sampai kini, masihkah hati kita enggan bertaubat? Tidakkah kita butuh taubat, wahai saudaraku tercinta? Berapa banyak dosa yang mengharuskan kita bertaubat? Kita harus bertaubat dari dosa besar maupun kecil. Dan setelah ini, masih ada lagi yang mengharuskan kita bertaubat.

Siapa Pencipta kita? Siapa yang bersabar dengan manusia, padahal Dia dijauhi setiap hari? Padahal Dia mencintai kita, memberi rezeki, dan tidak menghalangi rezeki kita. Bukankah itu Tuhan kita? Bukankah, kelalaian kita pada-Nya butuh taubat?

Kapan terakhir kali kita menangis karena Allah SWT? Kapan terakhir kali kita merasakan kebesaran-Nya? Kapan terakhir kali kita bersujud pada-Nya? Kadang, sebagian kita bersujud pada Allah SWT selama 60 tahun, namun tak ada satu sujud pun yang benar. Hati kita tidak khusyuk dan terpaut dengan-Nya. Kita meletakkan jidat di tanah, mengangkatnya, tetapi hati kita tidak sujud sama sekali. Sungguh. Kita memang butuh bertaubat atas kelalaian kita.

Kita Butuh Pertolongan-Nya

kita butuh pertolongannya

Saudaraku, sebagai manusia biasa, kita diciptakan dengan segala keterbatasan fisik dan akal. Karena itu kita teramat butuh pertolongan Allah SWT.

Dalam Al Quran, Allah SWT telah memberitahukan caranya. “Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. (QS. Al Baqarah : 153)

Dari firman Allah SWT tersebut kita diberi dua buah kunci untuk minta tolong pada-Nya. Anehnya banyak diantara kita yang tak percaya dengan hal ini. Hingga banyak yang mencari pertolongan selain kepada-Nya.

Lalu sejauh mana sabar yang telah kita punya selama ini? Apakah kita masih mengeluh setiap kali mendapatkan kesulitan? Apakah kita masih mengatakan sabar itu ada batasnya?

Jika pertolongan Allah SWT tidak kunjung tiba, mungkin kita perlu memeriksa tingkat kesabaran kita. Sejauh mana kita tetap teguh dalam memegang kesabaran tersebut?

Begitu juga, jika pertolongan Allah SWT terasa jauh, tanyakan bagaimana dengan shalat kita? Apakah selama ini kita hanya melakukan shalat tanpa benar-benar mendirikannya dalam segenap kehidupan kita? Bisa saja kita selalu shalat, tapi perbuatan keji dan mungkar masih juga kita perbuat. Atau apakah shalat kita anggap sebagai pelengkap hidup semata?

Jadi, jangan dulu mengeluh karena pertolongan Allah SWT tidak juga menghampiri kita. Jangan buru-buru menyalahkan Allah SWT atas semua persoalan hidup kita. Apalagi sampai mengatakan Dia tak adil.

Sungguh. Dalam hal ini sabar dan shalat kita yang masih perlu diperbaiki. Ya, amat perlu kita perbaiki.

Masa Yang Tersisa

masa yang tersisa

Saudaraku, kini kita telah memasuki tahun 1438 H. Betapa hari demi hari, minggu, bulan, dan tahun silih berganti tanpa terasa. Nafas kita terus berjalan menuntun kita ke pintu kematian.

Satu hari berlalu, berarti satu hari pula berkurang umur kita. Tanpa kita sadari, sesungguhnya dunialah yang makin kita jauhi dan liang kuburlah yang makin kita dekati. Baru kemaren rasanya kita jadi anak kecil, lalu menjadi remaja, dewasa dan berkeluarga, hingga kini telah berusia senja.

Sungguh. Umur kita yang tersisa pada hari ini sungguh tak ternilai harganya. Sebab esok hari belum tentu jadi bagian dari diri kita. Karena itu, jika hari ini telah berlalu tapi tiada amal kebaikan yang kita lakukan, maka kita jadi manusia yang merugi.

Karena itu janganlah pernah tertipu dengan usia muda, karena syarat untuk mati tidaklah harus tua. Jangan pula terperdaya dengan badan sehat, karena syarat untuk mati tidak pula harus sakit.

Selagi ada masa tersisa, teruslah berkata baik dan berbuat baik. Walau tak banyak orang yang mengenali kita, tapi amal kebaikan yang kita lakukanlah yang akan menuntun kita pada kebahagiaan, dan akan dikenang oleh mereka yang kita tinggalkan.

Sesekali cobalah mengenang jalan hidup yang selama ini telah kita lewati. Berapa banyak kebaikan yang telah kita perbuat? Berapa banyak manfaat yang kita berikan pada orang-orang di lingkungan sekitar kita?  

Saudaraku, semoga kita mampu menfaatkan waktu yang tersisa untuk selalu berbuat  kebaikan. Amin.

Khawatir Tidak Diterima

khawatir tidak diterima

Dalam hidup ini, kita tentu pernah menemukan orang-orang yang bangga dengan amal ibadahnya. Seolah ia akan langsung masuk surga dengan ibadahnya tersebut. Padahal bisa saja yang terjadi malah sebaliknya.

Sebagai orang yang mengaku beriman, kita hendaklah khawatir jika amal ibadah yang kita kerjakan tidak diterima oleh Allah SWT. Rasa takut dan khawatir amal tidak diterima itu dikarenakan oleh empat hal berikut.

$11.     Allah tidak membutuhkan ketaatan hamba

Sesungguhnya Allah Maha Kaya dari hamba-hamba-Nya. Dia tidak membutuhkan amal ibadah dan ketaatan para hamba-Nya.

Allah SWT berfirman, “Dan barang siapa yang bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji. (QS. Luqman: ayat 12).

Imam Qatadah dan para salafussaleh yang lain berkata, “Sesungguhnya Allah SWT tidak memerintahkan suatu perintah kepada para hamba karena Dia membutuhkan hal itu. Juga tidak melarang para hamba dari melakukan suatu perbuatan karena sikap bakhil dari-Nya. Akan tetapi, Allah SWT memerintahkan kepada hamba untuk melakukan suatu perbuatan adalah untuk kebaikan mereka sendiri, dan melarang dari melakukan suatu perbuatan juga untuk mencegah kehancuran mereka sendiri.

$12.    Diterimanya suatu amal adalah semata-mata karena kebaikan dan rahmat Allah SWT.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tidaklah salah seorang dari kalian selamat karena amalnya.” Para sahabat bertanya, “Tidak juga engkau, wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, “Tidak juga aku, kecuali Allah meliputiku dengan rahmat-Nya.” (HR. Bukhari)

Bila membaca hadis ini, pasti kita akan semakin yakin betapa besarnya kelemahan dan ketidakmampuan yang kita miliki. Karena itu kita akan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT,  dan merasa sangat membutuhkan-Nya. Sehingga kita tidak akan terjerat dalam sikap menyombongkan diri, atau merasa puas dengan amal dan usaha yang  kita lakukan selama ini. Semakin kita menyadari hakikat ini, maka akan semakin tampak kemuliaan Allah SWT di mata kita. Kita pun akan semakin mengetahui betapa kecilnya kita di hadapan-Nya.

Bagi Allah-lah segala keutamaan dan anugerah yang kita punyai. Kita tidak boleh menganggap bahwa semua itu merupakan hasil dari usaha dan jerih payah kita sendiri. Sebab hal ini akan menimbulkan kesombongan.

Betapapun tinggi pangkat dan jabatan yang kita punya, pintarnya otak kita, banyaknya harta yang kita miliki dan beragam anugerah lainnya, itu semua adalah milik Allah SWT semata. Kita hanya makhluk yang diberi-Nya titipan.

$13.    Seorang hamba tidak merasa dirinya aman dari fitnah dan cobaan.

Setinggi apa pun kedudukan yang kita punya saat ini, kita tidak boleh merasa aman dari fitnah dan cobaan. Kita harus khawatir kalau sampai tersapu oleh angin hawa nafsu dan fitnah.

Betapa banyak orang di sekeliling kita yang awalnya terhormat di tengah-tengah masyarakat. Namanya harum semerbak dan jadi kebanggaan orang banyak. Namun tiba-tiba saja namanya tercoreng karena ketahuan berbuat yang tidak baik.

Oleh karena itu, jika telah menyadari keempat hakikat ini, kita akan benar-benar tahu bahwa kekaguman terhadap ketaatan kita kepada Allah SWT merupakan sebuah penyakit. Itu semua tak ada manfaatnya. Hal itu juga merupakan bencana paling besar yang dapat menjatuhkan kita ke jurang kesesatan dan kehancuran.

Sungguh. Tak ada sedikit pun yang patut kita banggakan tentang segala amal ibadah yang kita lakukan. Baik itu bangga di depan manusia lain, terlebih lagi di depan Allah SWT.

Satu hal yang patut kita sadari adalah niat. Seorang ulama yang bernama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.”

Niat yang baik atau keikhlasan merupakan sebuah perkara yang sulit untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan sering berbolak-baliknya hati kita. Terkadang ia ikhlas, di lain waktu tidak. Padahal, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, ikhlas merupakan suatu hal yang harus ada dalam setiap amal kebaikan kita. Amal kebaikan yang tidak terdapat keikhlasan di dalamnya hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka.

Hal yang dapat mendorong kita agar lebih ikhlas adalah dengan menyembunyikan amal kebaikan yang kita lakukan. Yakni kita menyembunyikan amal-amal kebaikan yang disyariatkan dan lebih utama untuk disembunyikan (seperti shalat sunnah, puasa sunnah, dan lain-lain).

Semoga kita jadi pribadi yang senantiasa takut dan khawatir tidak diterima amal ibadahnya oleh Allah SWT. Amin.