Generasi Pertama Abad Kedua Diniyyah Puteri

358708999 6034218216686839 7542212612985562628 n

Tepat 1 November 2023 Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang akan genap berumur 1 abad, artinya abad kedua Perguruan yang didirikan oleh Rahmah El Yunusiyyah ini akan segera dimulai. Generasi baru yang memasuki abad kedua ini sudah datang di Perguruan Diniyyah Puteri sebanyak 183 santri dengan total 100  santri Madrasah Tsanawiyah Swasta Diniyyah Menengah Pertama (MTsS DMP) dan 83 santri Madrasah Aliyah Swasta  Kulliyatul Mu’allimat El Islamiyah (MAS KMI).

Para santri baru melaksanakan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (MATSAMA) pada tanggal 11-13 Juli 2023. Acara ini dibuka oleh Pimpinan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, Fauziah Fauzan El Muhammady, SE,Akt,M.Si di Aula Zainuddin Labay El Yunusy.

MATSAMA dihadiri oleh seluruh santri baru tahun angkatan 2023/2024, Pimpinan Perguruan Diniyyah Puteri, Kepala Departemen Pendidikan, Dr.Laili Ramadani,MA, Kepala MAS KMI, Yusneli,S.Ag, Kepala MTsS DMP, Rasyidah Z Day, S.Psi. dan seluruh guru.

358696643 6034217610020233 5882468753463654940 n

Kegiatan MATSAMA pada tanggal 11 Juli 2023 berisi pembukaan dan pengenalan lingkungan sekolah bersama Panitia yang berasal dari Persatuan Mu’allimat Diniyyah School (PMDS). Selanjutnya, 12 Juli para santri baru diberi training oleh Pimpinan  Diniyyah Puteri. Sedangkan tanggal 13 Juli kegiatan ditutup dengan Outbound bersama kakak panitia.

Generasi baru Diniyyah Puteri ini memiliki tagline Born To Be a Leader” terlahir sebagai pemimpin. Fauziah Fauzan mengungkapkan bahwa Al Uswah itu artinya keteladanan. “Generasi baru Diniyyah Puteri ini dipersiapkan untuk menjadi pemimpin di masa depan. Dari Diniyyah Puteri mereka diajarkan untuk memimpin dirinya sendiri seperti meninggalkan kenyamanan rumah dan mulai terbiasa dengan kehidupan Asrama yang serba mandiri. Hal ini dilakukan agar mereka siap menghadapi tantangan di masa depan guna menjadi pemimpin muslimah yang tangguh. Mereka juga akan dibekali banyak program baru dalam rangka menyambut datangnya Abad kedua Diniyyah Puteri,” ungkapnya. (Tasya Sabila/Diniyyah News Reporter)

Walking Story, Jalan-jalan sambil Berbagi

walking 00

Kota Padang Panjang memiliki tempat-tempat bersejarah. Namun seiring berkembangnya zaman, banyak dari masyarakat yang tidak lagi terlalu memperhatikan berbagai sejarah tersebut. Menyikapi fenomena ini DiniyyahLiteracy Center (DLC) bersama Wafa Care bekerja sama mengadakan suatu kegiatan yang diberi nama Walking Story.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu,14 Januari 2022 ini diikuti oleh peserta yang berasal dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Dipandu FazatilHusainah El Muhammady, Duta Baca Sumatera Barat periode 2022-2025 dan tim DLC.

Walking Story dimulai dari Perguruan Diniyyah Puteri. Peserta dikenalkan dengan seluk beluk Diniyyah Puteri, berziarah ke makam keluarga pendiri Diniyyah Puteri serta mengunjungi museum Rahmah El Yunusiyyah. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan ke Jembatan Besi dan Mesjid Zu’ama. Di sini peserta diberitahu bahwa dulunya ulama-ulama besar Minangkabau mengajar di mesjid ini. Salah satunya adalah Ayah Buya Hamka. Di mesjid ini pula Rahmah El Yunusiyyah dan Rasuna Said belajar dengan beliau. Berikutnya, peserta dibawa ke  Kampung Nias, lokasi masyarakat Tionghoa di Padang Panjang. Di sini peserta mengenal dan belajar menghargai perbedaan. Baik perbedaan suku, ras, maupun agama. Setelahnya, perjalanan dilanjutkan menuju Stasiun Kereta Api Padang Panjang untuk mengetahui sejarah singkat stasiun tersebut. Dari stasiun, peserta menuju Jorong Sangkua, Nagari Singgalang, Kabupaten Tanah Datar. Di lokasi ini peserta berbagi sembako dengan masyarakat setempat yang kurang mampu. Terakhir, peserta dibawa ke Diniyyah Outbound dan Agro (DOA).

walking 01

Riki Eka Putra,ST, Manager DLC yang juga pemandu kegiatan menjelaskan pentingnya kegiatan Walking Story. Menurut beliau, seseorang yang sudah punya ilmu di bangku pendidikan juga harus melihat berbagai keadaan di tengah-tengah masyarakat sekitarnya. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa kegiatan ini bisa menambah wawasan para peserta mengenai Diniyyah Puteri dan juga Kota Padang Panjang.

Salah satu peserta, Ukhti Rahima, sangat mengapresiasi adanya kegiatan ini. Mahasiswi Sastra Arab Universitas Padjajaran tersebut mengungkapkan terima kasihnya kepada semua pihak yang telah menyelenggarakan kegiatan. “Sebelumnya saya hanya mendengar Rahmah El Yunusiyyah dari seminar di Bandung, tapi pada kesempatan ini saya diajak untuk mengenal lebih dekat serta bersilaturahmi dengan Diniyyah Puteri,” ujarnya.

Kegiatan ini ditutup dengan pembagian kenang-kenangan berupa Buku hasil karya santri Diniyyah Puteri kepada masing-masing peserta.(TasyaSabila/DiniyyahNewsReporter)

Bedah Buku Tunggu Aku di Surga

_MG_2656.jpeg

            Ketika berbicara tentang cinta, akan banyak pandangan mengenai cinta dari berbagai prespektif. Tapi cinta yang bagaimanakah yang akan membawa seseorang ke surga dan membuat seseorang lebih dekat kepada Rabbnya?

            Pertanyaan inilah yang dijawab oleh novel “Tunggu Aku di Surga” karya Fauziah Fauzan El Muhammady. Setelah diluncurkan 31 Oktober 2018 silam buku ini menarik banyak pembaca dan testimoni dari banyak pihak sehingga pada Kamis, 22 Desember buku ini kembali dibedah di Aula Zainuddin Labay El Yunusy. Acara bedah buku ini dimoderatori oleh Muhammad Subhan, Founder Kelas Menulis Daring Elipsis serta hadir sebagai pembedah, Bundo Nova, peneliti dan Founder Babaliak Ka Nagari dan Penulis buku, Fauziah Fauzan El Muhammady. Acara ini dihadiri oleh Kepala Dinas dan Kearsipan Kota Padang Panjang, Yan Kas Basri, SE, dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh, Dr. Dasril, S.Pd, M.Pd, dosen, guru, mahasiswa, serta masyarakat dari berbagai daerah.

            Bundo Nova, pembedah buku menyampaikan bahwa buku “Tunggu Aku di Surga” merupakan buku yang komplit. Di dalamnya terdapat rasa yang amat dalam yang dapat dirasakan oleh para pembacanya sehingga tidak heran banyak orang yang memutuskan untuk masuk Islam setelah mendengar syair-syair yang dimuat dalam buku ini.

            Bundo Nova juga menilai novel ini dari berbagai aspek. Mulai dari cover yang menunjukkan berbagai filosofi yang secara sekilas menggambarkan isi buku tersebut. Selain itu beliau juga mengupas nilai pendidikan dalam buku seperti rasa takut kepada Allah SWT serta rasa perjuangan yang digambarkan oleh Raisa, tokoh utama dalam cerita fiksi tersebut. Selanjutnya ia juga menguraikan tempat-tempat yang menjadi latar cerita.

            Fauziah Fauzan sebagai penulis buku turut menjelaskan proses kreatif penulisan novel Tunggu Aku di Surga. Menurutnya buku ini lahir dari banyaknya pengalaman mengenai cinta yang dihadapinya mulai dari semasa menjadi santri di Diniyyah Puteri hingga saat ia menjadi Dosen di salah satu Universitas di Jakarta.

               Lebih lanjut, Zizi, sapaan akrabnya turut menjelaskan pemilihan latar Diniyyah Puteri dan Thawalib yang menurutnya ini dikuatkan dengan hubungan antara Thawalib dan Diniyyah Puteri yang begitu mesra di masa silam. Bahkan ia juga bercerita bahwa ayahbeliau, Prof. Fauzan El Muhammady berasal dari Thawalib dan Ibunya Dra. Huda Hanum berasal dari Diniyyah Puteri sehingga pemilihan latar Diniyyah Puteri dan Thawalib menjadi sangat tepat.

            Selain nilai pendidikan dan edukasi, Buku ‘Tunggu Aku di Surga” turut memperkenalkan unsur-unsur budaya Minangkabau pada khalayak ramai. Menurut penuturan Bundo Nova, unsur budaya Minang diperkenalkan melalui tradisi-tradisi Minangkabau dalam pernikahan sehingga dalam buku ada penegasan adat basandi syara’ syara’ basandi kitabullah. Bundo Nova turut menyoroti karakter Raisa yang menggambarkan gadih Minang yang seutuhnya serta Rafi sebagai pemuda Minangkabau yang sejati dengan tidak menyalahi cinta dan menjadikan nafsu sebagai sandarannya tetapi menjadikan Allah dalam sandaran cintanya.

            Kegiatan ini dilanjutkan dengan tanya jawab antara peserta dan penulis. Nurhaimi, peserta asal Payakumbuh pada kesempatan ini memberikan apresiasinya pada buku tersebut. Ia menjelaskan bahwasanya ada tiga kekuatan dalam buku Tunggu Aku di Surga yaitu kesabaran, keikhlasan, dan kekuatan.

            Sementara itu, Dr. Dasril, S.Pd,M.Pd berujar, “buku ini mempunyai dua kekuatan yaitu cinta dan semangat bersama Al-Qur’an. Saya berharap dengan buku ini memicu meledaknya literasi di Ranah Minangkabau serta literasi dengan sumber yang mendidik.

            Acara ditutup dengan penyerahan cendramata kepada moderator dan pembedah oleh Direktur Diniyyah Literacy Center, Fauzi Fauzan El Muhammady, S.Fils.I. (Tasya Sabila/Diniyyah News Reporter)

           

Wisuda Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah STIT Diniyyah Puteri Rahmah El Yunusiyyah

_MG_138d6.jpeg

            Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Diniyyah Puteri melaksanakan wisuda di Aula Zainuddin Labay El Yunusy, 20 September 2022. Peserta wisuda berjumlah 26 orang yang terdiri dari 14 orang mahasiswi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan 12 orang mahasiswi dari Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD). Kegiatan ini turut dihadiri oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Kota Padang Panjang, Koordinator Kopertais Wilayah VI Sumatera Barat, Kapolres Padang Panjang, Pimpinan Perguruan Diniyyah Puteri, Ketua STIT, Dosen, Staf dan Karyawan Diniyyah Puteri.

            Saat memberikan kata sambutan, Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Padang Panjang, Zulkifli, S.H mengatakan, “Sudah empat tahun ananda semua menimba ilmu di Diniyyah Puteri. Semoga ilmu yang ananda dapatkan bisa diterapkan ke masyarakat luas yang mampu mengembangkan bangsa ini.”

            Sementara itu, Koordinator Kopertais Wilayah VI Sumatera Barat, Prof. Hj. Martin Kustati, M.Pd dalam sambutannya mengucapkan selamat kepada wisudawati yang sudah mendapatkan gelar Sarjana Strata 1. Ia juga bepesan kepada wisudawati agar jangan berhenti sampai di Strata Satu saja, terus tambah kompetensi yang ada dalam diri, dengan menambah Strata Dua, Strata Tiga sampai menjadi seorang Profesor.

            Selanjutnya, Ketua STIT Diniyyah Puteri, Syarifatul Hayati, Lc, MA. mengatakan, “Selamat untuk adik-adik yang sudah menyandang sarjana pendidikan. Semoga dengan menyandang gelar baru, adik-adik bisa mempertanggung jawabkan dengan mengabdikan diri dan menebar manfaat untuk masyarakat serta bangsa Indonesia.” Ia juga berharap di usia Perguruan Diniyyah Puteri yang ke 100 STIT bisa berkembang menjadi Institut Agama Islam (IAI). (Syifa Khaira Najwa/Diniyyah News)

           

You are here: Home News and Events